Belanda Kukuhkan Wali Kota Muslim Kedua

Setelah Ahmed Aboutaleb yang menjabat sebagai Wali Kota Rotterdam, kini menyusul Ahmed Marcouch terpilih menjadi Wali Kota Arnhem, ibu kota provinsi Gelderland, Belanda.

Pelantikan Marcouch dilakukan secara langsung oleh Komisaris Raja Clemens Cornielje di Burgerzaal (Ruang Warga), Kotapraja Anrhem, Jumat (1/9) waktu setempat.

Pelantikan Marcouch mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan, terutama dari politisi Kotapraja Arnhem dan tingkat pusat di Den Haag, juga dari kalangan media nasional Belanda, demikian laman Kotapraja Arnhem dipantau kumparan Den Haag (kumparan.com).

Tantangan datang dari Geert Wilders. Pemimpin partai politik Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai Kebebasan) berhaluan populisme sayap kanan yang dikenal sangat anti-Islam ini, menolak pengangkatan seorang muslim menjadi wali kota di Belanda.

Selain PVV, protes dan demonstrasi juga digelar oleh kelompok ekstrem kanan Nederlandse Volksunie/NVU (Persatuan Rakyat Belanda, -red) dan Pegida, akronim dari Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abendlandes (Bangsa Eropa Patriotis anti-Islamisasi Eropa, -red), sebuah gerakan yang muncul di Jerman pada 2014 dan meluas ke negara-negara sekitarnya termasuk Belanda.

Massa partai politik dan gerakan-gerakan ekstrem kanan tersebut berpandangan bahwa pengangkatan Ahmed Marcouch merupakan awal dari Islamisasi ibu kota povinsi terbesar di Belanda.

Meskipun ada tekanan-tekanan dan aksi-aksi protes, namun tidak menggoyahkan penunjukan Marcouch, yang lahir di Beni-Boughafer, Maroko, 2 Mei 1969, sebagai Wali Kota Arnhem.

Menurut penelusuran kumparan, jabatan wali kota di Belanda dengan masa jabatan 6 tahun tidak diperebutkan melalui demokrasi langsung, melainkan diangkat oleh pemerintah atas persetujuan kabinet berdasarkan rekomendasi dari Dewan Kotapraja (DPRD) alias demokrasi perwakilan, sebagaimana diatur dalam Grondwet (Konstitusi) Pasal 131.

Pernah dicoba warga dapat memilih dua kandidat wali kota antara lain di Leiden, Zoetermeer, Utrecht dan Eindhoven melalui referendum yang sifatnya tidak mengikat pada 2001-2008, namun tingkat partisipasi warga sangat rendah sehingga referendum wali kota sejak itu tidak pernah lagi dilaksanakan.

Dengan terpilihnya Marcouch sebagai Wali Kota Arnhem, maka Belanda saat ini memiliki dua orang wali kota aktif dari kalangan minoritas muslim. Sebelumnya Ahmed Aboutaleb, yang lahir di Beni Sidel, Maroko, 29 Agustus 1961, telah lebih dulu terpilih sebagai wali kota muslim pertama di Rotterdam pada 2009, dan kini sedang menjalani masa jabatan periode kedua.

Uniknya, baik Marcouch maupun Aboutaleb, selain minoritas muslim juga bukan 100 persen warga negara Belanda. Mereka juga warga negara Maroko, memegang dwikewarganegaraan, alias 50 persen Belanda dan 50 persen Maroko, tetapi bisa menjadi pejabat penyelenggara negara. Aboutaleb bahkan pernah menjadi Staatssecretaris (Menteri Muda) Bidang Sosial dan Lapangan Kerja. Dan semua itu di Belanda dimungkinkan.

Sumber: Kumparan

Gimana menurut kawan WPM?

Gimana menurut Kawan WPM?